Wednesday, March 17, 2010

Semut: Cermin tentang Keindahan Kerja Sama, Kesetiakawanan, dan Pengorbanan yang Tulus


Siapa yang ga tau semut? Binatang kecil mungil ini ada di mana-mana. Dari anak bayi sampe kakek nenek jompo juga pasti tau semut. Tapi.. seberapa jauh kita mengenal mereka? Mengenal kehidupan mereka.. mengenal keajaiban-keajaiban penciptaan dalam diri mereka.. memgenal tata aturan populasi mereka.. mengenal pengorbanan dan kesetiakawanan yang mereka amalkan sebagai makhluk-Nya..?

Semut-semut yang kecil kecil itu merupakan salah satu sumber pembelajaran yang sangat berharga buat manusia. Mereka hidup berkoloni (sekitar 500ribuan ekor semut per koloni), dan setiap anggota koloni selalu mengedepankan kepentingan bersama dan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri (semut: rajanya itsar..^^’). So, ga ada anggota koloni semut itu yang bakal kelaparan or sampe ga punya tempat tinggal. Mereka juga punya pembagian tugas yang luar biasa efektif dan ga pernah ada dalam sejarah, semut yang komplen akan penugasan yang diberikan kepadanya.. apalagi meminta diberikan jabatan2 tertentu, naek pangkat, gaji gede, de el el (hehe..peaceee..^^’). Mereka akan melakukan apapun demi keberlangsungan hidup koloni mereka, sekalipun nyawa taruhannya!

Di koloni semut, ada yang namanya semut penganyam. Mereka bertugas untuk membangun sarang alias tempat tinggal bagi koloni. Sarang yang dibangun terbuat dari daun2 yang mereka rekatkan dengan menggunakan cairan lengket yang diperoleh dari larva2 semut alias calon semut yang belum jadi semut. Jadi, larva2 itu harus berkorban demi keberlangsungan hidup koloninya karena setelah cairan lengket yang ada di tubuh larva itu dipakai, larva yang bersangkutan ga bisa tumbuh baik seperti semut normal. Kasihaaann... T_T... Tapi, larva2 tadi akan dirawat dengan baik oleh semut2 dewasa sampai akhir hayatnya.

Hal yang menarik adalah... semut2 penganyam itu tau persis bagian mana dari daun yang harus mereka rekatkan supaya daun2 itu bisa tersusun baik menjadi bangunan yang nyaman dan kokoh buat tempat tinggal mereka. Mereka tidak dikaruniai akal, memang, tetapi kemampuan mereka menciptakan rekonstruksi bangunan sedemikian rupa menunjukkan adanya kekuatan besar yang ‘mengajarkan’ mereka agar bisa bertahan hidup sekaligus menjadi contoh bagi orang2 yang mau mengambil pelajaran.

“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” Q.S. Ath-Thalaaq (65):12

Ada juga yang namanya semut petani. Semut2 ini bertugas memotong daun2 dari pu’un2 (baca: pohon) en ngebawa daun2 tadi ke sarang mereka. Daun..or batang daun yang mereka potong ibarat batang pohon yang dipotong manusia. Kalau manusia perlu gergaji mesin untuk motong batang pohon, semut udah dilengkapi dengan ‘gergaji’nya sendiri untuk memotong daun yang mereka perlukan. Gergaji mereka ada di depan kepalanya, berupa sepasang capit gitu yang bagian pemotongnya dilapisi oleh senyawa zinc (senyawa pa unsur yaa.. :-? Unsur ding yaaa..?? 8##%$%#$*#) sehingga capit itu memang bener2 kuat buat motong daun/batangnya. Cara mereka motong pun ga sembarang potong, mereka mengirimkan gelombang berfrekuensi tinggi ke bagian daun yang bakal mereka potong, sehingga bagian itu akan menjadi lebih rapuh dan mereka bisa memotongnya lebih mudah. Subhanallah... Subhanallah.. Perkembangan iptek memang telah membuktikan bahwa pemotong yang terbuat dari/dilapisi logam memiliki fungsi potong yang lebih baik dibanding yang tidak dilapisi logam, dan gelombang berfrekuensi tinggi akan membuat benda2 di sekitarnya menjadi lebih rapuh. Tapi,, darimana semut2 mengetahui ilmu2 semacam itu? Sedangkan manusia saja baru mengetahuinya setelah berabad2 mendalami ilmu pengetahuan.

Setelah daun2 itu dipotong, semut2 tadi harus membawanya ke sarang mereka. Kemampuan seekor semut membawa potongan daun ke sarangnya sama seperti seorang laki-laki yang berlari sejauh 1 km dalam waktu 2,5 menit sambil membawa beban seberat 250 Kg!! Which man could ever do that?! Untuk melancarkan tugas mereka, sebelumnya semut2 itu telah membuat track alias jalur khusus buat jalan mereka dari dan ke sarang. Ga ketinggalan, demi tetap terjaganya fungsi dan kestabilan track yang telah dibuat, beberapa anggota koloni semut ada pula yang bertugas di sepanjang trek itu. Mungkin semacam DLLAJ gitu.. ^^’

Sesampainya di sarang, daun2 tadi di serahkan kepada semut pekerja di dalam sarang. Kehebatan lainnya dari semut2 ini adalah.. daun2 yang mereka bawa tadi bukanlan untuk makanan mereka, melainkan untuk ladang cocok tanam mereka di dalam sarang! Makanan mereka adalah jamur. Jadi, mereka harus bisa menumbuhkan jamur dari daun2 yang dipotong2 tadi. Persis setelah sampai di sarang, daun2 tadi dibersihkan dulu dari berbagai bakteri dan kuman2 yang akan membahayakan kesehatan mereka oleh semut pekerja di dalam sarang. Semut2 ini bisa menghasilkan zat antiseptik untuk membunuh bakteri dan patogen2 itu. Soalnya, kalau sampai ga steril, jamur yang diproduksi bisa terkontaminasi! Dan itu akan berbahaya buat kesehatan anggota koloni mereka..!! Setelah disterilisasi, daun itu kemudian dipotong menjadi bagian yang lebih kecil2 lagi. Mungkin supaya tumbuhnya jamur bisa lebih cepat. Lalu, ditaruh di tempat yang sesuai. Untuk bisa menghasilkan jamur, semut2 ini juga harus mengatur suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya yang masuk ke dalam sarang mereka. Hal ini juga diterapkan manusia melalui rumah kaca, dengan suhu, cahaya, dan kelembaban yang diatur sedemikian rupa sehingga cocok tanam dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Hmm.. tapi.. kembali perlu direnungkan.. semut ga belajar tentang rumah kaca kannn..??

Saat tiba waktunya panen, semut2 pemanen bekerja memanen jamurr!! Yuhuuu!! Tapi, mereka memanen jamur bukan untuk mereka makan sendiri, melainkan mereka antarkan ke teman2 mereka...semut2 pekerja...!!! Supaya semut2 pekerja bisa makan sekaligus tetap melanjutkan pekerjaannya. Subhanallah...Subhanallah... dengan begitu, semua anggota koloni semut tersebut akan memperoleh makanan, ga ada yang kelaparan. Kalau sudah selesai panen, daun2 sisa panen harus dibuang. Pekerjaan yang tidak kalah penting ini pun dilakukan oleh semut2 tanpa kenal lelah dan keluh kesah walaupun harus membuang daun sisa panen ke tempat yang jauh dari sarang mereka.

Pengorbanan lain yang luar biasa heroik dalam koloni ini adalah saat semut petani harus memikul daun2 yang telah dipotong ke sarang2 mereka, semut2 itu rentan mendapat serangan bahkan menjadi mangsa bagi tawon! Padahal, satu2nya pertahanan mereka adalah capit yang disaat bersamaan harus mereka gunakan untuk membawa daun. Aksi heroik ditunjukkan oleh semut2 yang berada di atas helaian daun yang dipikul oleh semut petani.. semut yang di atas daun tadi berperan sebagai lini pertahanan utama-dan mungkin satu2nya-bagi semut petani dalam menghadapi serangan tawon dari udara! Bahkan, nyawa pun menjadi taruhan bagi semut2 heroik ini.. demi keberlangsungan hidup koloni mereka agar dapat menghasilkan makanan.. T_T

Last but not least... ada semut prajurit. Semut ini ukurannya berpuluh2 kali lebih besar dibanding semut2 lain di koloni. Ia menjadi pertahanan utama saat ada ancaman terhadap sarang koloni. Sekali semut prajurit ini menancapkan capit2nya ke tubuh ‘pengancam’ (manusia ataupun hewan lain), mereka tidak akan melepaskan capitannya meskipun tubuh mereka terluka, tercabik2.. hingga mati.. X_X

Demikianlah keajaiban penciptaan Allah dalam tubuh dan kehidupan seekor makhluk kecil.. sebagaimana firman-Nya..

“..Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?”

Q.S. Al-An’aam (6): 80


sumber: Harun Yahya ^^

No comments: