Monday, May 13, 2013

Bapak Kaos Coklat Susu


Bismillaah..

Setiap hari Senin sampai Sabtu selama sebulan terakhir ini saya menjadi pelanggan setia bus umum (bus atau bis?). Banyak inspirasi yang saya dapat selama perjalanan bolak-balik di atas bus. Salah satunya saya tuangkan ke dalam tulisan ini.

Jadi ceritanya sekitar 1 mingguan yang lalu, saya pulang kerja seperti biasa nunggu bus di pinggir jalan (digebugin orang sepasar nek di tengah jalan). Saat datang bus yang dinanti, saya pun naik ke dalam bus, tingak tinguk cari tempat duduk. Bus masih agak kosong sore itu. Beberapa baris kursi berkapasitas 2 orang baru ditempati satu orang penumpang. Saya pun memilih satu kursi kosong, persis di samping seorang bapak paruh baya berkaos lusuh warna coklat susu. dari awal saya lirik si bapak ini dalam hati, ‘kurus bangett ya Allah..’ Bus pun melaju beberapa puluh meter lalu berhenti menunggu penumpang. Di tempat ngetem ini, biasalah.. banyak abang-abang jualan yang naik bus nawarin jajanan.. aqua, mijon, dondong, tahu, tisu, lampe (baca: lap kecil. *jangan tanya saya kenapa disebut lampe, saya juga bingung kenapa si abang ngomongnya ‘lampe,lampe,lampe..lampenya neng’), sampai kacang telur-permen jahe. Nah bagi para pembaca yang juga pelanggan setia bus umum, pasti hafal bener modus jualannya abang-abang kacang telur-permen jahe ini adalah dengan menaruh 1-2 bungkus jualannya di atas pangkuan setiap penumpang untuk kemudian dipungutin lagi satu-satu.. Saya, yang memang persis sebelum pulang sore itu baru makan siang sama temen, memutuskan untuk tidak membeli jajanan si abang kacang telur-permen jahe. Masih kenyang.

Datanglah si abang ke arah saya dan bapak kaos coklat susu. Jualan si abang 2-2nya saya kembalikan. Si bapak paruh baya hanya mengembalikan kacang telur dan selembar uang 2000an. Beliau membeli sebungkus permen jahe rupanya. Seketika bus akan tancap gas karena penumpang yang mulai penuh, bapak kaos coklat susu tiba-tiba menyodorkan permen jahe ke arah saya, “Mau, Teh?” Saya, yang sebenarnya cukup kaget dengan manuver si bapak, sempet bengong sebentar sambil menengok dan melihat wajah si bapak. Senyum mengembang di wajah beliau. Saya menolak dengan halus, gak lupa pake senyum semanis mungkin. Selain karena saya memang tidak terlalu suka dengan produk-produk jahe (minuman, permen, kue, apapun lah..), saya juga memang masih kenyang. Lagipula, saya mulai berpikir mungkin si bapak lapar belum sempat makan siang makanya beli permen jahe. Atau bahkan belum sempet sarapan juga dari pagi. Soalnya bapaknya itu emang kurus banget. Kalo ditimbang, tebakan saya berat badannya gak sampe 45 kg deh. Tapi fisiknya terkesan cukup sehat.

Beberapa meter setelah bus melaju, saya terus memikirkan tentang manuver si bapak kaos coklat susu yang menawarkan permen jahenya kepada saya. Ya Allah.. memori saya tiba-tiba seperti ditarik kembali pada momen beberapa tahun lalu (yang sebenarnya sudah lama banget gak pernah saya ingat-ingat).. di dalam pesawat salah satu maskapai penerbangan di Indonesia yang tidak menyediakan makanan bagi penumpangnya. Hehe. Saat itu saya ingat banget... saya kelaparan! Masya Allah. Perut saya perih banget waktu itu saya inget persis karena saya belum sempat makan apa-apa di hari itu sejak pagi, padahal saya naik pesawat itu sudah sore. Nah, yang bikin mirisnya adalah orang yang duduk di samping saya di pesawat itu bawa bekal makanan roti sobek yang kira-kira seukuran netbook. Saya benar-benar laparrr minta ampun ya Allah.. tapi orang yang duduk di samping saya tidak sekalipun menawarkan roti yang beliau makan kepada saya sampai disimpannya lagi sebagian sisanya. Dan ya gak mungkin juga saya tiba-tiba bilang ke orang tersebut, “Minta rotinya, Pak..”. Heheh.. tengsin bo.

Sesak lantas menyeruak dalam hati saya di atas bus sore itu atas perbuatan bapak kaos coklat susu di samping saya, lalu teringat pada kejadian beberapa tahun lalu di pesawat. Saya termasuk orang yang masih sering beranggapan bahwa keterbatasan ekonomi lebih erat dengan kejahatan, kekufuran, bahkan kekafiran. Astaghfirullah.. di sore itu mungkin Allah hendak mengajarkan pada saya bahwa kebijaksanaan dan hikmah yang besar bisa saja kita peroleh dari keterbatasan yang ada. Si bapak paruh baya yang kurus, membeli sebungkus permen jahe dengan selembar uang 2000an dari kantongnya, menawarkan saya –orang tidak beliau kenal– yang secara random duduk di samping beliau di atas bus umum, dengan senyum.. padahal mungkin beliau beli permen itu juga karena lapar, seperti saya beberapa tahun lalu di pesawat. Sepanjang perjalanan itu saya perhatikan si bapak, yang terus mengunyah permen jahe sepanjang perjalanan, sampai habis satu bungkus. Hehe. Kalau gak lapar, berarti si bapak emang hobi banget sama permen jahe. :p

Sejak sore itu, saya kembali merasa seperti diingatkan: Setiap kali makan di tempat umum di samping orang lain, harus menawarkan makanan yang saya makan kepada orang di samping saya. Bukankah itu pula ajaran Rasulullaah Saw teladan alam? J bahkan tetangga yang dapat mencium bau masakan kita saja sudah memiliki hak untuk mencicipi masakan yang kita buat.. Lagipula, sangat bisa jadi, orang-orang yang tidak kita kenal di samping kita sebenarnya sedang dalam keadaan yang sama persis dengan saya di pesawat beberapa tahun lalu: laperrrr beraatt!! :D
Alhamdulillaah..
kamarternyamansedunia.homswithom.
130513. 21.00 WIB