Wednesday, April 3, 2013

Sukaku atau Ridho-Nya


Semakin kita mencoba mencari makna di setiap peristiwa yang terjadi, semakin kita menemukan kasih sayang Allah di dalamnya. Suka maupun tidak suka. Bahwa sesungguhnya hidup ini bukanlah mengenai apa yang kita inginkan, life doesnt always go my way kata Britney Spears dalam lagunya ‘Im not a girl not yet a woman.’ Hidup kita adalah tentang apa yang Allah takdirkan. Dan bagaimana sikap kita dalam menerima setiap takdir itu. Setiap usaha yang diamalkan. Setiap doa yang terungkap di sujud-sujud panjang kita, tak berarti harus membawa hidup sesuai dengan keinginan kita. Allah yang Maha Tahu. Hanya Allah yang Maha Tahu. Mungkin sering kita bertanya, mengapa Allah menakdirkan ini untukku? Mengapa Allah memberi pilihan ini untukku dan bukan pada orang lain? Mengapa dari sekian banyak manusia, Allah memilihku untuk mengalami ini? Setiap tanya yang sangat boleh jadi tidak akan segera kita dapatkan jawabannya. Mungkin berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun kemudian kita baru merasakan hikmahnya, manfaatnya. Itulah sebabnya, keikhlasan menjadi barang mahal. Ikhlas melakukan segala amal semata-mata karena Allah. Ikhlas menerima setiap ketentuannya yang terjadi dalam hidup kita. Keikhlasan yang diiringi dengan prasangka baik pada Allah. Sejak detik pertama peristiwa itu terjadi. Allah tidak pernah akan menyakiti kita. Tidak pernah. Tak akan pernah. Allah hanya ingin yang terbaik untuk kita. Pasti. Pasti. Hingga sepahit apapun pil yang harus kita telan, yakinlah bahwa pasti hanya buah manis yang kelak Allah siapkan untuk kita panen.

Namun, tak urung ikhlas menjadi pekerjaan yang berat. Bagi saya, yang masih terus berkubang dalam dosa dan kesia-siaan, yang masih jauh dari amalan-amalan ahli qur’an, yang masih sering hanyut menikmati keindahan-keindahan duniawi, yang masih nyaman mengikuti hawa nafsu, yang masih berat menjauhkan lambung dari tempat tidur di sepertiga akhir malam, yang masih tertatih memfasihkan hafalan kalam-Nya, yang masih sering berwajah masam pada bapak ibu, yang masih banyak mengeluh dalam kesempitan, yang sering lupa dalam kesenangan, yang masih mengotori hati dengan cinta kepada selain-Nya. Hingga langkah terasa berat, tertatih-tatih berjalan meraih ridho-Nya. Astaghfirullahal’azhiim. Astaghfirullaah. Astaghfirullaahal’azhiim. Ya Allah, dengan apa kelak harus kutebus setiap kelalaianku kini??

Ikhlas adalah amal sholeh. Ia amalan hati. Kerja hati. Tak ada amal sholeh yang ringan dilakukan ketika maksiat dan kesia-siaan masih terus menyelimuti diri. Sebaliknya, amal sholeh seberat apapun kan terasa ringan ketika hari-hari kita telah penuh terisi dengan kebaikan-kebaikan ahli surga. Ibarat candu, amal sholeh akan menarik amal sholeh lainnya hingga kemaruk seorang manusia dibuatnya. Maruk beramal sholeh. Begitupun maksiat dan kesia-siaan, kan menarik maksiat lainnya hingga tertutup hati seorang manusia dari cahaya kebaikan. Na’uzubillaah. Tsumma na’udzubillaah..

Hidup berisi pilihan-pilihan. Pada dasarnya hanya ada dua pilihan: ridho-Nya atau murka-Nya, jalan surga atau jalan neraka, jalan wahyu atau jalan nafsu. Hanya dua pilihan itu. Dalam menjemput takdir yang baik, memilih adalah suatu keniscayaan. Ia beri pilihan yang dengan atau tanpa kita sadari mengarah pada dua alternatif itu. Ridho-Nya, atau murka-Nya. Bahkan seorang teman yang hanif pernah menulis: Jika terdapat dua pilihan yang sama-sama tidak enaknya bagi kita dan kita tetap harus memilih, maka pilihlah yang paling menyelisihi hawa nafsu. Nasihat yang puluhan, mungkin ratusan kali ditanamkan ke dalam hati namun tak urung berat pula rasanya ketika dihadapi. Karena hawa nafsu tak akan pernah habis bila dituruti, sedangkan surga kelak akan dihadiahi oleh mereka yang menahan hawa nafsunya. Wa ammaa man khoofa maqooma robbihii wa nahannafsa ‘anil hawa, fainnal jannata hiyal ma’wa.. dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.. (An-Naazi’at: 40-41). Maka mengambil pilihan yang menyelisihi hawa nafsu semoga dapat menjadi salah satu jalan meraih ridho-Nya. Pun dalam memilih takdir-Nya tentang cinta. Tentang rasa. Tentang hati. Ketika ikhlas itu masih berat, sepertinya hanya dengan menyelisihi hawa nafsu lah sebuah langkah kecil kan bisa diawali. Dengan senantiasa memperkuat doa memohon kebaikan kepada-Nya agar meringankan dan senantiasa memberkahi langkah-langkah selanjutnya. Kearah manapun Ia memberi jalan. Hingga tak lagi rintihan kesakitan yang dijeritkan dalam hati, melainkan senyum tulus keikhlasan yang membawa kesejukan bagi diri sendiri dan orang lain.

Sebuah catatan hati yang tidak begitu manis, namun semoga kelak
menjadi pengingat diri ini akan besarnya kasih sayang Allah..
.homswithom. 03April2013.1236 wib.,

2 comments:

Anonymous said...

astaghfirullah,sampe menitikan air mata.makasih ya buat tulisan 'pengingat' nya.semoga blog nya tambah berkah dan bermanfaat.
-irin-

Nadiagani said...

assalamu'alaykm irin.
Makasii dah mampir. smoga tulisn2 ini bs bermanfaat,terutama buat yg nulis.hehe
salam kenal ya.. :)